Untuk bisa mencapai lokasi taman ini bisa dikatakan tidaklah susah karena lokasi hutan ini masih berada di Kota Bandung, tepatnya di daerah Dago Pakar. Dengan tiket seharga 10.000 kita bisa menikmati udara Bandung yang sejuk. Pepohonan yang rimbun adalah pemandangan awal yang kita temui setelah kita masuk lewat pintu masuk utama. Taman hutan yang sangat luas ini sangat cocok untuk kongkow-kongkow atau sekedar melepas segala kepenatan. Setelah kita melewati pintu masuk mata kita akan disuguhkan pemandangan pepohonan pinus. Diantara pohon pinus yang menjulang tinggi itu kita juga akan menemui area taman bermain untuk pengunjung, panggung terbuka, disini juga terdapat monument patung pahlawan yang namanya dipakai untuk taman yang luasnya 530 hektare ini yaitu Ir. H. Djuanda.

Sebenarnya kalau kita ada waktu yang lumayan banyak, dikawasan ini ada beberapa tempat wisata alam yang sangat menarik untuk dikunjungi, antara lain tebing keraton, Curug Dago, Batu Prasasti Kerajaan Thailand, Panggung Terbuka, Kolam PLTA Bangkok, Monumen Ir. H. Djuanda, Museum Mini Taman Hutan Raya, Taman Bermain, Curug Lalay, Curug Omas Maribaya, Panorama Alam Taman Hutan Raya, jogging Track ke Maribaya, Patahan Lembang, Goa Jepang, Goa Belanda. Berhubung aku masuknya lewat pintu utama, maka kuputuskan memilih obyek wisata yang dekat dengan dago pakar saja karena disamping dekat waktu itu juga lagi turun hujan ringan. Goa Belanda berhasil aku telusuri, di goa yang sangat gelap ini kita bisa jalan-jalan didalamnya dengan bantuan senter. Senter banyak disewakan oleh penduduk sekitar di mulut-mulut goa yang dibangun oleh Pemerintah Kolonial Belanda pada tahun 1912 ini. Sesuai infografis yang tertera di pintu masuk goa, diterangkan bahwa tujuan pembangunan goa ini adalah untuk terowongan penyadapan aliran Sungai Cikapundung. Aliran sungai tersebut digunakan oleh PLTA Bengkok. Sedangkan pada sekitaran tahun 1941, Belanda juga memanfaatkan goa ini sebagai basis militer. Salah satu fungsinya sebagai stasiun radio telekomunikasi.

Selanjutnya kita jalan ke arah area Goa jepang. Untuk bisa sampai ke Goa Jepang lokasinya tidak terlalu jauh dari goa belanda. Goa jepang yang ada di Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda adalah salah satu dari puluhan Goa jepang yang tersebar di seluruh Indonesia. Goa Jepang ini dibangun antara tahun 1942-1945 oleh pekerja Romusha, Romusha adalah sebutan bagi orang-orang yang dipaksa bekerja oleh penjajah jepang. Goa ini dahulu dimanfaatkan oleh penjajah Jepang sebagai tempat penyimpanan amunisi, logistik, dan komunikasi radio pada masa perang.

Goa jepang di Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda memiliki beberapa pintu yang di dalamnya terdapat beberapa kamar. Kamar-kamar inilah dulunya yang dipakai oleh para panglima tentara Jepang untuk beristirahat. Goa Jepang selalu dirawat makanya keberadaan jauh dari kesan angker. Dari beberapa petunjuk yang aku baca, dari area komplek Goa jepang, kita bisa lanjut mengunjungi obyek wisata lain yang lain seperti Curug Omas Maribaya, Panorama Alam Taman Hutan Raya, dan Patahan Lembang. Untuk bisa mengunjungi tempat-tempat wisata ini kita harus mengeluarkan tenaga yang ekstra, perjalanan yang dibutuhkan hampir 2 jam. Tapi bagi anda yang gak suka jalan kaki, diarea taman hutan ini juga banyak disewakan motor. Tapi untuk sekali jalan kita harus merogoh kocek seratus ribu rupiah. Sungguh nominal yang agak mahal sih menurutku.

Bagaimana tertarik mengunjungi taman sejuk nan asri ini? Siapkan diri anda, siapkan budget anda, dan datanglah kesini dipagi hari agar bisa menikmati udara hutan yang sejuk. Tapi tetep jagalah taman wisata ini dengan tidak membuang sampah sembarangan, tidak merusak fasilitas yang tersedia, tidak vandalisme. Selamat berpetualang dan salam lestari.

Kategori: Travelling

maswid

simple

0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *