Apa yang terlintas dalam benak kita ketika mendengar kata Tuban? Bumi wali, kota seribu goa atau kota penghasil semen??? Yaps itu benar semua, tetapi kita juga harus tahu bahwa di Tuban juga ada klenteng yang katanya terbesar di Asia Tenggara. Klenteng sebagai tempat beribadah bagi umat konghucu yang berada di tuban ini sangat unik sekali, karena selain menghadap laut jawa, klenteng ini juga dihiasi kepiting di pintu masuk utamanya. 
Klenteng Kwan sing bio berada di Jalan RE Martadinata Kota Tuban, klenteng ini setiap harinya selalu ramai, ramai oleh para pendatang yang ingin beribadah dan juga ramai bagi para wisatawan yang sekedar ingin berwisata. Area klenteng sendiri dibagi menjadi 2 zona, zona untuk ibadah dan zona untuk berwisata saja, disini saya akan sedikit cerita terkait jalan-jalan sama adikku di klenteng kwan sing bio, pastinya di zona yang khusus untuk wisata saja. 

Klenteng ini telah dilengkapi dengan sarana parkir yang sangat luas, ketika kita berada didalam klenteng serasa kita berada di negeri tirai bambu, yang membedakan adalah sana bahasanya china sedangkan kalau disini bahasanya campur aduk hahahahahaa…. 
Klenteng ini berada pada hamparan 4 hektar, jadi sangat luas sekali. Disini kita juga dapat mengambil foto dengan berbagai macam background, di klenteng yang dibangun pada abad ke 18 ini ada banyak ornamen dengan gaya khas china, mulai lukisan di tembok-tembok dan patung dewa-dewa. Tepat di depan jalan yang menghubungkan tempat parkir dan bangunan utama klenteng kita akan disuguhkan gapura pintu masuk yang sangat besar, gapura dibalut dengan hiasan naga dengan warna dominan kuning dan merah. Lebih dalam kita masuk ke dalam klenteng kita akan disuguhkan relief bangunan yang sudah tidak asing lagi bagi kita, ada bangunan candi borobudur dan tembok besar china yang saling berhadap-hadapan, disamping itu kita juga bisa melihat relief peta NKRI dan peta negara tiongkok. Ohya disamping bangunan relief ini ada beberapa penjaja souvenir yang menjajakan souvenir khas china, jadi para pengunjung bisa menyempatkan beli sekalian bisa dipakai untuk berselfie ria di klenteng… Klenteng Kwan Sing Bio Tuban juga memiliki gedung 4 lantai, gedung ini dipakai para tamu yang ingin bermalam di klenteng kwan sing bio, untuk teknisnya jika mau bermalam bisa menghubungi pengelola. Tepat di depan bangunan 4 lantai ini kita dapat menjumpai panggung yang sangat megah, panggung ini dipakai dihari-hari tertentu untuk menggelar kegiatan, seperti ulang tahun klenteng ataupun juga pada acara imlek yang pasti digelar setiap tahunnya. Panggung ini didesain sedemikian rupa, ada sepasang patung naga didepannya, jembatan warna putih, yang mana jembatan ini berfungsi sebagai pintu masuk menuju panggung utama. Panggung klenteng kwan sing bio berada di atas kolam buatan yang dipenuhi dengan berbagai macam jenis ikan. Ohya jangan mancing ya kalo berkunjung disini …Selain panggung dan gedung yang megah, tepat dibelakang gedung 4 lantai kita dapat menjumpai sebuah patung raksasa, patung ini juga diklaim sebagai patung terbesar se-asia tenggara, patung ini adalah perwujudan dewa perang yang bernama Kongco Kwan Kong, dibadan patung tertulis nama penyumbang patung. Patung ini sangat besar dibandingkan bangunan kanan kirinya.
Diakhir perjalanan wisata ke tempat ibadah umat konghucu ini aku berpapasan dengan pegawai klenteng, namanya pak trowar, pak trowar ini sudah 30 tahun mengabdikan dirinya bekerja disini. Pak towar bekerja sebagai cleaning service. Selain pak trowar ada puluhan pegawai cleaning service yang sempat aku temui, mereka sedang membersihkan halaman klenteng. Pak Trowar adalah seorang muslim, dan sebagian besar teman pak Trowar juga muslim. Sungguh indah sekali, meskipun beda keyakinan bisa saling menghormati dan bekerjasama. Sekian cerita perjalananku dari klenteng kwan sing bio. Semoga kita bisa selalu menjaga pluralisme dengan saling hormat menghormati antar umat beragama. Salam hangat (maswid)

Kategori: Travelling

maswid

simple

0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *