Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat merupakan istana Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat berlokasi di Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta, Indonesia. Kompleks bangunan kraton berfungsi sebagai tempat tinggal sultan hingga kini masih lestari menjalankan tradisi. Kraton kini juga merupakan salah satu obyek wisata di Kota Yogyakarta.

Bagian-bagian Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat :

Gladag Pangurakan

Gerbang utama untuk masuk ke kompleks Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat dari arah utara adalah Gladhag dan Gapura Pangurakan. Merupakan gerbang pertama jika masuk Kraton dari utara. Setelah Gladhag Pangurakan terdapat Kompleks Alun-Alun Lor (Alun-Alun Utara).

Alun-alun Lor

Alun-Alun Lor merupakan lapangan berumput di bagian utara Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Terdapat dua pohon beringin di tengah alun-alun, masing-masing diberi pagar dari batu bata. Pohon beringin tersebut dinamakan Waringin Kurung. Kedua pohon beringin masing-masing dinamakan Kyai Dewandaru (berasal dari Majapahit, terletak sebelah barat) dan Kyai Wijayadaru (berasal dari Pajajaran, terletak di sebelah timur); kedua pohon ini melukiskan atau melambangkan bahwa di dunia ini terdapat sifat serba dua yang saling bertentangan atau berlawanan.

Masjid Gede Kesultanan

Disebelah barat Alun-Alun Utara terdapat Masjid Agung Yogyakarta, berbentuk pendopo yang tertutup dan di bagian depannya berserambi yang terbuka. Atap masjid bertingkat. Tiang-tiang masjid bagian dalam terbuat dari kayu-kayu jati yang bulat dan tinggi menyangga atap.

Di halaman masjid agung terdapat Pagongan, berwujud 2 buah bangunan yang berlantai tinggi di sebelah utara dan selatan halaman tersebut. Pagongan ini adalah tempat bagi gamelan Sekati yang dikeluarkan dari Kraton pada upacara sekaten. Gamelan tersebut dibunyikan selama sepekan menjelang perayaan Maulud Nabi.

Pagelaran

Bangsal pagelaran terletak tepat di sebelah selatan alun-alun utara yang merupakan bangunan utama keraton. Pagelaran dahulunya bertiang 63 buah kemudian 4 buah diantaranya diganti dengan 8 buah pilar besar sebagai tanda bahwa Pagelaran tersebut disempurnakan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono VIII. Di sebelah atas gerbang di bagian luar menghadap ke utara tampak hiasan-hiasan relief merupakan Condrosengkolo yang uraiannya adalah ponco gono saliro tunggal. Gambar lebah (tawon) yang melingkar (setengah lingkaran) di atas seekor buaya/ biawak. Arti condrosengkolo : ponco=5, gono=6, saliro=8. tunggal=1. Dibaca dari belakang merupakan tahun pagelaran disempurnakan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono VIII.

Di sebelah atas gerbang sebelah selatan juga dihiasi relief, merupakan suryo sengkolo : catur trisulo kembang loto, yang menunjukkan tahun masehi 1934. Suryosengkolo tersebut berwujud empat senjata trisulo yang bertangkai menjadi satu, dilingkari oleh bunga yang menjalar. Bangunan di mana terdapat gerbang-gerbang tersebut merupakan tempat menunggu tamu-tamu untuk menghadap Sri Sultan.

Bangsal Pemandengan

Di ujung sebelah kanan dan kiri pagelaran terdapat 2 buah bangsal yang disebut Bangsak Pemandengan. Bangsal ini dipergunakan oleh Sri Sultan beserta para pimpinan prajurit untuk menyaksikan jalannya latihan perang-perangan, watangan dan latihan dalam gelar perang yang dilakukan oleh para prajurit. Atap bangsal ini berbentuk kutuk kumambang.

Bangsal Pengapit atau Bangsal Pasewakan

Di sebelah barat dan timur Pagelaran terdapat 2 buah Bangsal besar, beratap susun berukir indah, yang disebut Klabang Sinander, atap yang atas terpisah dari yang bawah, ke 2 bangsal tersebut dinamakan Bangsal Pengapit atau Bangsal Pasewakan, Di bangsal ini dahulu para Senopati perang menerima perintah-perintah Sri Sultan atau menunggu giliran untuk menyampaikan laporan kepada Sri Sultan. Dalam perkembangannya bangsal ini dipergunakan sebagai tempat caos (jaga) bagi para bupati anom njaba. Pada masa sekarang dipergunakan sebagai museum untuk tempat
peragaan busana adat Kraton Yogyakarta

Bangsal Pengrawit

Terletak di sebelah barat Bangsal Pengapit bagian timur, dipergunakan oleh Sri Sultan untuk melantik seorang Patih Bangsal tersebut berwujud 2 buah bangsal kecil, masing-masing bangsal terdapat sebuah selogilang sebagai tempat singgasana Sri Sultan dan Putera Mahkota.

Relief Perjuangan Pangeran Mangkubumi dan Relief Perjuangan Sri Sultan Hamengku Buwono IX

Di halaman belakang Pagelaran pada pagar tembok sebelah kiri dan kanan terdapat relief-relief perjuangan Pangeran Mangkubumi, yang kemudian menjadi Sri Sultan Hamengku Buwono I atau pendiri Karaton Ngayogyakarto, sedangkan di sebelah kanan barat adalah relief perjuangan Sri Sultan Hamengku Buwono IX sejak zaman penjajah Belanda hingga penyerahan kedaulatan. Relief-relief tersebut dibuat pada tahun 1978 untuk kepentingan studi wisata.

Pada halaman antara pagelaran dan sitihinggil ditanami 6 batang pohon gayam, yang dapat diartikan dengan ayem atau bahagia.

Bangsal Pacikeran

Sebelum naik ke Sitihinggil terdapat dua bangsal kecil berada di kiri dan kanan, kedua bangsal ini disebut Bangsal Pacikeran. Bangsal ini dipergunakan bagi abdi Singonegoro dan Mertolut (sebutan bagi abdi dalem algojo krata); dan tempat ini masih digunakan sampai tahun 1926.

Siti Hinggil

Sitihinggil berada di sebelah selatan Pagelaran. Arti Siti Hinggil yaitu tanah yang tinggi, dipergunakan sebagai tempat penobatan para raja Keraton Kasultanan Yogyakarta, sekaligus menjadi tempat diselenggarakannya upacara Pisowanan Agung. Pada tanggal 17 Desember 1949, bangsal ini dipergunakan sebagai tempat pelantikan Ir. Soekarno sebagai Presiden Republik Indonesia. Dua hari kemudian pada tanggal 19 Desember 1949, di bangsal ini juga diselenggarakan peresmian Universitas Gadjah Mada sebagai Perguruan tinggi nasional pertama di Indonesia.

Di kompleks Sitihinggil terdapat bangunan Tarub Agung, berupa bangunan empat persegi, bertiang besi empat buah yang menyangga atapnya dengan gaya Khas Jawa, merupakan tempat bagi pembesar-pembesar yang menanti rombongannya untuk bersama-sama masuk ke Kraton.

Bangsal Kori

Terdapat di sebelah timur dan barat dari Tarub Agung, digunakan untuk jaga (caos) bagi abdi dalem Kori yang mempunyal tugas untuk menyampaikan permohonan rakyat kepada Sri Sultan Abdi dalem Kori ini pulalah yang selalu mengawasi ke arah Alun-alun utara, apabila ada seseorang atau beberapa orang rakyat yang akan menyampaikan pengaduan ataupun permohonan keadilan kepada Sri Sultan. Mereka (rakyat tersebut) melakukan aksinya dengan cara berpakaian serba putih duduk ditengah-tengah antara kedua pohon beringin (ringin kurung). Aksi tersebut dinamakan Pepe. Rakyat yang melakukan aksi pepe akan terlihat dari atas Sitihinggil oleh Abdi dalem Kori yang sedang caos, dan selanjutnya abdi dalem tersebut akan menyampaikan pengaduan atau permohonan rakyat yang bersangkutan ke hadapan Sri Sultan.

Bangsal Agung Sitihinggil

Di selatan Tarub Agung kita berhadapan dengan Bangsal Besar yang didepannya terdapat sebuah Tratag yang disebut Tratag Sitihinggil. Bangsal ini dahulu beratapkan anyaman bambu tetapi kemudian pada tahun 1926 disempurnakan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono VIII menjadi suatu Bangsal yang menakjubkan dan begitu megah. Bangsal Besar Sitihinggil merupakan tempat Singgasana Sri Sultan dan juga tempat di mana Sultan Sultan Mataram Yogyakarta dinobatkan, di tempat ini pula upacara Pisowanan Agung diadakan yaitu pada hari-hari Garebeg.

Di bagian luar depan atas dari Tratag, Sitihingal terdapat hiasan relief yang melukiskan Condrosengkolo, Pandito Cokronogo wani, yang berwujud dua ekor naga yang saling membelakangi: pada kedua ekor naga tersebut terdapat senjata cakra. Pandito = 7, cokro = 5, nogo = 8, wani = 1, di balik menjadi tahun Jawa 1857; sedang dibagian belakang/ dalam dari Tratag Sitihinggil terdapat Suryosengkolo: Gono Asto Kembang Loto; yang menggambarkan kedua tangan, masing-masing berada disudut atas kanan dan kiri sambil menggenggam tangkai kembang, dimana tangkai kembangnya masing-masing dihinggapi oleh seekor lebah. (Gono = 6, Asto =2, Kembang = 9, Loto = 1); yaitu tahun Masehi 1926.

Diatas Tratag Sitihinggil, tepatnya pada bagian atas Bangsal Besar Sitihinggil bagian luar depan, tertulis sederet huruf Jawa yang berbunyi: Sampeyan Dalem Ingkang Sinuwun Kangjeng Sultan Hamengku Buwono Ingkang Jumeneng Kaping Wolu. Di sebelahnya tertulis tahun Jawa dengan Huruf Jawa 1857.

Bangsal Manguntur Tangkil

Di bagian tengah Bangsal Sitihinggil berdiri bangunan bernama Bangsal Manguntur Tangkil. Di tengah bangsal ini terdapat batu persegi atau Selo Gilang yang dipergunakan untuk meletakkan singgasana Sultan ketika berlangsung upacara penobatan serta pada waktu digelarnya Pisowanan Agung.

Bangsal Witono

Di belakang Bangsal Manguntur Tangkil, berdiri Bangsal Witono yang menjadi tempat pusaka utama Keraton pada saat dilangsungkannya penobatan raja serta pada waktu upacara Garebeg Mulud pada Tahun Dal.

Lantainya terbuat dari batu pualam. Tiang-tiang dan langit-langit Bangsal ini dihiasi ukiran-ukiran yang sangat indah. Di tebing bagian belakang dari bangsal Witono di sebelah timur terdapat Condrosengkolo: “Tinoto pirantining madya Winoto” (yang berarti tahun Jawa 1855) dan di sebelah barat terdapat Suryosengkolo “Linungit kembar gatraningron” (yang berarti tahun Masehi 1925). Condrosengkolo dan Suryosengkolo tersebut menunjukkan tahun dimuliakannya Bangsal Winoto, tersebut oleh Sri Sultan Hamengku Buwono VIII.

Bentuk bangunan Bangsal Witono dan hiasan-hiasan ukiran yang
terdapat pada Bangsal tersebut baik pada langit-langit maupun tiang-tiang
penyangganya melukiskan persatuan dan kesatuan

Regol Brojonolo

Di sisi timur halaman Sitihinggil terdapat bangunan bernama Balebang yang dahulu dipergunakan untuk menyimpan gamelan pusaka Sekaten, Kyai Gunturmadu dan Kyai Naga wilaga Sementara di sisi barat halaman ini berdiri Bale Angun-angun dimana tersimpan pusaka Keraton berwujud tombak bernama Kanjeng Kyai Sura Angun-angun.

Regol Brojonolo

Melalui tembok tebal dan tinggi yang disebut Renteng Mentok Baturono
sampailah kita pada pintu Gerbang Brojonolo (brojo = tajam, nolo = hati)
yang menghubungkan halaman Sitihinggil Lor dengan Halaman Kemandungan Lor di sebelah selatannya. Pada waktu upacara Gerebeg yang diadakan 3 kali dalam satu tahun, hajad Dalem berupa Gunungan yang diiringi dengan tampilnya seluruh Bregodo Prajurit Karaton, juga melalui pintu Gerbang Brojonolo ini. Hajad Dalem tersebut dibawa ke Masjid Agung dari Kemendungan lor/Keben.

Sumber : Brosur Wisata Pagelaran Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat

Pagelaran
Bangsal Pacikeran
Regol Brojonolo
Balebang dan Bale Angun-Angun
Masjid Gedhe Kasultanan
Alun-Alun Lor
Kategori: Travelling

maswid

simple

0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *