Sore itu aku bergegas menuju kota yang menjadi olok-olokan di media sosial beberapa waktu lalu. Bekasi. Di kota yang berbatasan langsung dengan Ibukota negara inilah tujuan utamaku. Menghadiri peluncuran buku antologi puisi berjudul Memandang Bekasi. Buku ini diterbitkan oleh Dewan Kesenian Bekasi yang disupport dinas Pariwisata Bekasi. Acara ini berlangsung pada malam hari di Saung Bitung Bekasi, di restoran yang mengusung konsep betawi ini berbagai macam kegiatan dilangsungkan mulai dari tari, musik, lawak, pembacaan puisi dan lain-lain.

Acara demi acara pun usai, kini saatnya istirahat, makan dan selanjutnya tidur. Para penggiat seni yang perempuan tidur di mushola restoran sedangkan yang pria memilih tidur lesehan di tempat dilangsungkannya pertunjukan termasuk aku, sebenarnya semua akomodasi hotel dan lain-lain sudah disiapkan untuk para undangan yang hadir tetapi fasilitas tersebut tidak ada yang menggunakannya.

Pagipun tiba, ditemani segelas teh hangat kami sempat ngobrol dengan beberapa undangan, bahwa kegiatan akan dilanjutkan kembali. Pembacaan puisi. Ya pembacaan puisi yang akan dilangsungkan di Bundaran Hotel Indonesia Jakarta. Bapak Bambang yang asli Magelang itu berkata bahwa kalau kita ke Jakarta alangkah baiknya kalau naik Commuter Line saja. Dengan segera kami aminkan saja ajakan bapak yang sudah melanglangbuana berpuisi di sejumlah Negara Asean tersebut. Tetapi sebelum naik Commuter Line dari restoran yang berseberangan dengan Kantor Kecamatan Cengkareng Barat tersebut kita harus naik minibus terlebih dahulu untuk menuju stasiun Bekasi. Setibanya di stasiun aku langsung beli tiket, harga tiketnya bisa dikatakan murah hanya 2.000 untuk sekali jalan dari stasiun bekasi menuju stasiun Tanah Abang Jakarta. Tetapi kita harus menyediakan uang jaminan sebesar 10.000 untuk sebuah kartu khusus agar kita bisa masuk ke dalam stasiun. Diatas kereta yang gerbongnya digerakkan tenaga listrik itu kondisinya masih sepi dikarenakan hari minggu, akhirnya sampai diterminal Manggarai Jakarta, disinilah kita harus berpindah gerbong agar bisa melanjutkan perjalanan menuju stasiun Tanah Abang. Untuk rute dari stasiun manggarai ke Tanah Abang ini penumpangnya sudah sangat luar biasa banyak alhasil kita harus berdiri, tidak butuh waktu yang lama agar kita sampai distasiun tanah Abang, setelah sampai kini saatnya menuju bagian ticketing untuk keperluan mengembalikan kartu dan mengambil uang jaminan 10.000 yang tadi aku jaminkan dari stasiun bekasi.

Sesuai rencana awal bahwa tujuan kita ke Jakarta adalah membacakan puisi di acara Car Free Day Jakarta. Kebetulan lokasi Bundaran HI untuk pembacaan puisi tidak terlalu jauh, jadi kita ramai-ramai jalan kaki serta menikmati jalanan yang bebas kendaraan bermotor tersebut. Pembacaan puisi dilakukan dijalan dekat Bundaran HI Jakarta, para seniman yang memang sudah lihai berakrobat kata-kata tersebut membacakan puisi dengan indahnya. Pembacaan puisipun usai. Kini saatnya kembali ke daerah masing-masing.

Disaat teman-teman kembali ke daerah masing-masing, aku malah menghubungi teman yang memang juga sama-sama berasal dari Tuban yang berdomisili di Jakarta. Tidak menunggu lama, teman yang kami maksud sudah berada di lokasi janjian. Dari pagi memang kita belum makan, akhirnya aku, temanku, dan orang yang selalu menemaniku dimanapun ini memutuskan untuk makan disebuah warung kecil dekat bunderan HI. Sembari makan-makan ini kami ngobrol, dan terbesit dalam pikiranku untuk mengajak temanku main ke Balaikota Jakarta yang memang untuk akhir pekan di buka untuk umum mulai pukul 09.00 hingga 17.00 WIB itu.

Balaikota Jakarta berada di jalan Medan Merdeka Selatan Jakarta, lokasinya berseberangan dengan Monumen Nasional. Balaikota Jakarta yang dulunya sangat ekslusive, dizaman gubernur Ahok ini dibuka untuk masyarakat. Memang suatu kebijakan yang sangat bagus, pemimpin bisa lebih dekat dengan rakyatnya, dan rakyat merasa dimanusiakan oleh pemimpinnya. Sebelum kita masuk ke dalam balaikota terlebih dahulu kita akan memasuki pos pemeriksaan yang dilengkapi metal detector. Begitu masuk pelataran Balaikota yang bersih itu, kita akan dipandu oleh pemandu yang sangat ramah. Pemandu ini berasal dari Dinas Pariwisata Jakarta.

Selama berada di Balaikota ini kita bisa menikmati suasana Balai Kota yang sangat kental dengan budaya betawi tersebut. Pengunjung juga bisa mengetahui berbagai macam informasi mengenai Kota Jakarta, mulai dari sejarah gedung Balai Kota, gubernur yang pernah memimpin, sampai perkembangan Kota Jakarta terkini. Selain itu kita bisa  melihat ruang tamu gubernur, ruang rapat, duduk di pendopo, duduk di ruang tunggu, dan berfoto di ruang rapat gubernur.

Tepat diujung gedung dekat ruang pemutaran film Balaikota, kita akan di jelaskan terkait Jakarta Smart City. Program Smart City yang diluncurkan oleh Gubernur Ahok pada akhir tahun 2014 itu keberadaannya diyakini akan makin mempermudah kinerja aparat Pemprov DKI agar cepat merespons keluhan dari warga. Kesuksesan dan kelancaran Jakarta Smart City bertumpu pada keberadaan dua apliksi, yakni Qlue dan Cepat Respons Opini Publik (CROP). Qlue adalah aplikasi yang diperuntukan bagi warga, sedangkan CROP merupakan aplikasi yang hanya bisa diunduh oleh aparat Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan aparat kepolisian.

Qlue yang dapat diunduh secara gratis melalui smartphone yang berbasis Android ini merupakan sejenis aplikasi sosial media yang memiliki sarana penyampaian aspirasi secara pengaduan real time. Lewat Qlue, warga dapat melaporkan semua kejadian, seperti macet, banjir, jalan rusak, penumpukan sampah, ataupun ketersediaan tempat tidur di rumah sakit. Laporan disampaikan tidak hanya dalam bentuk tulisan, tetapi juga foto. Laporan dari masyarakat kemudian dipetakan secara digital dan terintegrasi dengan laman smartcity.jakarta.go.id dan CROP. 

Pengunjung Balaikota juga akan dimanjakan dengan berbagai macam kuliner khas betawi yang berada disamping bangunan balaikota. Semua jenis makanan disini harganya relative murah dikarenakan penjual yang menjual makanan disini tidak dikenai biaya sewa. Kita juga menikmati air siap minum secara gratis. Bagai pengunjung muslim, juga disediakan tempat sholat yang berada di basement gedung balaikota. Memang untuk sementara umat muslim hanya sholat di basement, tetapi kedepannya telah disediakan masjid 2 lantai yang sangat megah yang sampai saat ini masih dalam proses pembangunan. Bagi pengunjung yang ingin menghabiskan waktu sambil membaca buku, ada juga mobil perpustakaan yang telah disediakan di halaman Balai Kota.

Terima kasih pak Ahok, atas kebijakanmu aku bisa melihat indahnya Balaikota Jakarta. Selamat bertugas. (maswid)

Kategori: Travelling

maswid

simple

0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *