Masihkan ingatkah anda dengan sebutan kota tilang yang dibuat oleh para netizen beberapa waktu lalu. Tagar kota tilang muncul lantaran ada beberapa netizen yang kecewa dengan kepolisian yang sedang menggalakkan operasi lalu lintas. Perbincanganpun dimedsospun sempat sangat heboh meskipun nggak lama sih. Oke, disini saya gak akan ngebahas hal itu, melainkan akan bercerita terkait pengalamanku mengunjungi kota yang berjuluk kota tilang itu… ups salah,… kota udang yaitu Cirebon.

Cirebon mempunyai kebudayaan sunda yang berakar dari kerajaan padjadjaran dan kebudayaan jawa yang berasal dari mataram, dua kebudayaan yang bercampur itu lantas berafiliasi menjadi budaya cirebonan. Cirebon sendiri adalah sebuah daerah yang sangat kental akan ajaran agama islamnya. Ajaran islam ini bermula saat pangeran walangsungsang atau kian santang yang bergelar cakrabumi memeluk agama islam dan berhasil memproklamirkan daerah Cirebon sebagai wilayah yang merdeka. Pangeran walangsungsang sendiri adalah putra mahkota dari Sri Baduga Maharaja Prabu Siliwangi, raja dari kerajaan padjadjaran. Sepeninggal pangeran walangsungsang Cirebon dilanjutkan oleh keponakan dari pangeran walangsungsang, yaitu syarif hidayatullah. Syarif hidayatullah adalah putra dari nyai rara santang yang dipersunting syarif Abdullah dari mesir. Nyai rara santang adalah adik kandung dari pangeran walangsungsang dari istri prabu siliwangi yang kedua nyai subang larang.

Kesultanan Cirebon terjadi masa keemasan saat dipimpin oleh syarif hidayatullah. Syarif hidayatullah sendiri bergelar Ingkang Sinuhun Kanjeng Susuhunan Jati Purba Panetep Panatagama Awlya Allah Kutubid Jaman Khalifatur Rasulullah. Nama lain dari Syarif Hidayatullah adalah Sunan Gunung Jati, yang juga termasuk tokoh walisongo yang menyebarkan agama islam di tanah jawa. Sebagai daerah yang merdeka, kesultanan Cirebon memiliki sebuah keraton (tempat seorang penguasa raja atau ratu), yaitu keraton pakungwati. Pakungwati sendiri adalah nama putri pangeran cakrabuana yang menikah dengan sunan gunung jati, lantas sekarang kita mengenal keraton kasepuhan Cirebon. Keraton ini bisa dikatakan keraton yang paling megah dan terawat dibandingkan keraton-keraton yang lainnya yang berada di Cirebon. Keraton yang berlokasi di Jalan Kasepuhan No. 43, Kesepuhan, Lemahwungkuk, Kota Cirebon ini setiap harinya sangat ramai selalu dipadati para wisatawan, baik wisatawan yang dari daerah Cirebon sendiri maupun yang dari luar Cirebon. Sama seperti keraton-keraton di jawa, keraton ini menghadap ke utara, ada alun-alun didepannya dan ada masjid disamping barat alun-alun yaitu masjid sang cipta rasa. Disekeliling alun-alun kita juga bisa menjumpai para pedagang yang menjajakan berbagai oleh-oleh khas Cirebon, makanan, pakaian, cinderamata dan lainnya. Dan saya pada kesempatan ini juga menyempatkan untuk membeli sebuah kain batik motif megamendung, konon batik megamendung adalah desain batik dari pangeran cakrabuana. Sebelum masuk keraton kita beli tiket dulu didepan loket yang lokasinya persis didepan pintu masuk keraton. Kalo gak salah harganya 20.000 untuk satu orangnya, jika kita mau sekalian dengan jasa tour guide kita dikenakan biaya lagi sebesar 50.000 per rombongan. Begitu masuk kita akan disambut gerbang yang begitu besar yaitu gerbang Kretek Pangrawit yang berada di utara. Sebenarnya keraton ini memiliki dua gerbang, yaitu gerbang yang ada di sebelah utara dan gerbang yang berada diselatan yang bernama Lawang Sanga. Setelah kita melewati gerbang kretek pangrawit kita akan menjumpai sebuah bangunan yang dinamakan Pancaratna. Bangunan ini sendiri berfungsi sebagai tempat menghadap para pembesar desa yang diterima oleh demang atau wedana. Ada juga bangunan yang berada disebelah timur yaitu pancaniti yaitu sebuah bangunan yang dikhususkan untuk para perwira keraton pasca melatih para prajurit di alun-alun, tempat ini juga difungsikan sebagai tempat pengadilan.Memasuki area komplek keraton kita akan menjumpai bangunan yang agak tinggi dengan tembok yang didominasi batu bata merah. Bangunan ini bernama siti inggil atau lemah duwur yang berarti yang lebih tinggi. Bangunan sendiri hampir mirip bangunan candi yang berada di majapahit, bangunan ini didirikan pada masa pemerintahan sunan gunung jati. Komplek siti inggil terdiri dari beberapa bangunan seperti Mande Malang Semirang (tempat sultan melihat latihan prajurit sekaligus sultan menyaksikan hukuman), Mande Pandawa Lima (Tempat pengawal pribadi sultan), Mande Semar Tinandu (Tempat penasihat sultan), Mande Pengiring (Tempat para pengiring sultan) dan Mande Karasemen (tempat untuk membunyikan gamelan sekaten). (maswid)

Kategori: Travelling

maswid

simple

0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *