Soekarno itu memang idolaku, dan tentunya idolanya bangsa Indonesia. Memang tidak berlebihan kalau bung karno banyak diidolakan oleh banyak orang, selain pemikiran dan rasa cinta tanah airnya yang besar, bung karno berhasil meletakkan dasar-dasar dalam bernegara. Tetapi sehebat apapun seseorang tentu ketidaksempurnaannya  pasti ada, karena manusia paling sempurna dimuka bumi ini hanyalah Nabi Muhammad SAW. Bung Karno pada mulanya berguru dan bertempat tinggal di Rumah HOS Tjokroaminoto tepatnya dijalan Peneleh Surabaya, oleh karena itu gaya pemikiran bung karno banyak dipengaruhi oleh tokoh Syarikat Islam ini. Tegas, visioner, kharismatik, demokratis dan spiritualis. Soekarno memang lahir dan besar di Surabaya tetapi ide dan pemikiran beliau berkembang pesat ketika pencetus pancasila itu berada di Kota Bandung. Ya, di kota kembang inilah segala aktifitas Bung Karno dimulai, dari kuliah, berpolitik, dipenjara, menemukan gagasan marhaenisme dan beristri orang bandung. 
Tulisanku kali ini tidak membahas Bung Karno dengan segala aktivitas politiknya yang super dahsyat itu, tetapi mengenai orang hebat disampingnya. Karena setiap ada orang hebat pasti ada orang hebat disampingnya, bukan ada orang pencemburu yang berlebihan disampingnya. Hehehe maaf becanda ……

Tepat di Kelurahan Nyengseret Kecamatan Astana Anyar Bandung kita bisa melihat rumah yang ditempati Ibu Inggit Garnasih dan Soekarno sejak tahun 1926 sampai dengan pertengahan 1934. Sebelum Soekarno dan Inggit Garnasih dibuang ke Ende, Flores, maupun Bengkulu, tanah dan rumah itu mempunyai andil yang cukup besar mewarnai perjalanan perjuangan Soekarno sebagai Bapak Bangsa dan sebagai tempat bertemunya Soekarno dengan kawan-kawan seperjuangannya berdiskusi untuk mencapai Indonesia Merdeka. Rumah yang sudah masuk sebagai cagar budaya ini pemeliharaan dan pemanfaatan sepenuhnya dikelola oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, Provinsi Jawa Barat. Tidak banyak masyarakat yang mengetahui lokasi rumah ini, jangankan orang luar bandung, orang asli Bandung saja yang rumahnya berada kurang lebih 200 meter dari rumah bersejarah ini ditanya tentang keberadaan rumah Inggit Garnasih tidak mengetahui. Aneh ya, bangsa besar tapi tidak mau tahu sejarah bangsanya ……

Pada Juni 1921 dengan tujuan berkuliah di Technische Hoogeschool te Bandoeng atau yang sekarang dikenal dengan nama ITB. Melalui rekomendasi gurunya HOS Tjokroaminoto, Soekarno muda dititipkan di rumah salah satu saudagar dan anggota pergerakan Syarikat Islam Indonesia, Sanusi. Di rumah yang berada di jalan Ciateul inilah Soekarno berkenalan dengan Garnasih, istri Sanusi. Satu tahun Soekarno muda tinggal bersama Sanusi dan Garnasih dalam satu rumah kecil dengan 7 ruangan khusus. Akhirnya, bibit cinta terlarang pun tumbuh di antara Soekarno dan Garnasih. Disebut terlarang, lantaran Soekarno saat itu mencintai istri orang lain. Bukan hanya itu, usia Soekarno yang pada saat itu masih berusia 21 tahun terpaut cukup jauh dengan usia Garnasih yang telah mencapai 34 tahun. Perselingkuhan antara Soekarno muda dan Garnasih mulai tercium oleh Sanusi. Hingga pada tahun 1922, Sanusi pun menceraikan Garnasih dan merelakannya untuk dinikahi oleh Soekarno muda. Setahun kemudian, pada tanggal 24 Maret 1923 di Bandung, Soekarno akhirnya menikahi Garnasih secara resmi. Surat nikah antara Soekarno dan Garnasih terpajang di salah satu sudut di Rumah Bersejarah Inggit Garnasih.

Ibu Inggit garnasih merupakan pejuang wanita sejati, beliau berjuang sendirian ketika Soekarno dipenjara Banceuy dan Sukamiskin, di rumah inilah ibu Inggit memenuhi kebutuhan hidupnya dan kebutuhan Soekarno di penjara dengan cara menjahit baju, menjual kutang, bedak, rokok, dan menjadi agen sabun dan cangkul walaupun kecil-kecilan. Segala memori perjuangan Soekarno dan Inggit Garnasih semua bisa disaksikan langsung di Rumah bersejarah ini. Terakhir penulis hanya bisa berpesan kunjungilah museum, pelajari sejarah karena bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak melupakan sejarahnya. Kalau tidak kita sendiri yang mau mempelajari terus siapa lagi, kalau tidak mulai sekarang terus kapan lagi ?(maswid)

Kategori: Travelling

maswid

simple

0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *