Pemula dalam hal pendakian dan sedikit bonek (bondo nekat), dan masih sangat awam akan pendakian tetapi mempunyai keinginan untuk berdiri di puncak tertinggi tanah jawa itulah kami, sugeng yang seorang bos warkop termasur di bumi wali, sano seorang pengusaha muda yang cukup sukses dan gento yang seorang pekerja percetakan yang sangat hebat dan aku sendiri seorang mahasiswa teknik informatika.

Jumat (12/09/2014) itulah hari yang menurut kami, adalah hari yang sangat bersejarah karena pada hari itu kami ingin memulai perjalanan menapaki puncak para dewa, dengan menaiki Bus jurusan Semarang-Surabaya dari alun2 tuban menuju terminal terbesar di Indonesia Timur yaitu terminal Purabaya Bungurasih, dari bungurasih dilanjutkan 2 jam seperempat kami sampai juga di Terminal Arjosari Malang, karena dari siang kami belum menerima asupan gizi akhirnya kami putuskan untuk mencari tempat makan di sekitar terminal arjosari dan ketemulah warung pojok, pecel dan segelas teh berhasil memulihkan stamina aku dan rombongan lainnya.

Dan setelah dirasa cukup untuk makan dan istirahat, kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan dari terminal arjosari menuju daerah Tumpang, dan angkot TA (Tumpang-Arjoasari) yang harganya 6 ribu per orang akhirnya berhasil memboyong kami menuju tumpang.

Cerita seru terukir di daerah pasar tumpang Malang. Yaps Tumpang adalah pintu masuk menuju gunung semeru dari arah Malang, kenapa seru ??? Keseruan itu berawal dari proses tawar menawar harga naik jeep untuk mengantarkan kami menuju Ranupane (desa terakhir dilereng gunung semeru), untung ada salah satu anggota kami yang super jago dalam proses penawaran sebut saja namanya sugeng, berkat kelihaiannya dalam memainkan kata kami tidak jadi kena tipu sopir jeep yang melambungkan harga, dan anehnya juga mobil jeep yang suka menaikkan harganya ini markasnya berada di pos perhutani tumpang (ironis memang tapi itulah Indonesia). Tetapi walaupun tidak jadi naik, segala proses administrasi kami dapatkan dari pos sini, mulai surat pernyataan, surat kesehatan, ceklis bawaan dan yang berbau administrasi kami dapatkan dari pos ini. Dari anggota kami ada yang ngurus administrasi, ada pula yang belanja perbekalan selama di pendakian ada pula yang mencari pinjaman tenda.

Sebut saja Mas Slamet yang asli suku tengger itu berhasil memberi petunjuk rombongan, kami disarankan untuk naik truk sayur dengan harga 30 ribu per orang, dari pasar Tumpang menuju Ranupane dan petunjuknya itu kami amin-kan saja, sabtu (13/9/2014) jam 8 pagi kami berangkat menuju ranupane, setelah satu malam kami ditampung disalah satu rumah penduduk yang ramah itu. Perjalanan menggunakan truk sayur bersama teman2 MAHIPAL dari berbagai daerah dimulai dan perjalanan ini gak bakal aku lupain sampai kapanpun, setelah menyusuri desa penduduk suku tengger dan hutan lindung akhirnya kami sampai juga di Desa Terakhir dilereng gunung semeru, Desa Ranupane kecamatan Senduro Lumajang

Puncak Mahameru Gunung Semeru 3676 MDPL

Sekedar untuk diketahui saja, Gunung semeru yang katanya adalah puncaknya para dewa dan gunung tertinggi di pulau jawa dengan puncaknya bernama mahameru (3676 mdpl) dan termasuk dalam seven summit Indonesia.

Sesampai di Ranupane kami bergegas menuju pos pendakian / base camp untuk melakukan pendaftaran. Fotocopy ktp, surat keterangan sehat, dan lain2 yang telah aku persiapkan dari Tumpang dan 1 form dari pengelola TNBTS kami serahkan ke petugas dengan membayar biaya retribusi yang sangat melonjak drastis dari biasanya, Rp. 37.500 untuk satu hari (kalo kita 3 hari kalikan saja)/Per orang. Dari base camp ini kami tergabung dengan berbagai MAHIPAL, ada yang dari Gresik, sragen, solo, Jogjakarta, Jakarta dan lain2, dan kami sebelum memulai pendakian berdoa dulu bersama-sama.

Untuk pendakian gunung semeru dari ranu pane hingga danau ranu kumbolo sebenarnya ada dua jalur yaitu melalui jalur utama (yang kami lalui) bisa juga via gunung ayek-ayek. Dari basecamp ranu pane kami berjalan keselatan menyusuri jalan beraspal hingga menemui sebuah gapura bertuliskan “SELAMAT DATANG PARA PENDAKI GUNUNG SEMERU” dan pengabadian foto bersama rombongan terjadi disini.

Dari gapura selamat datang itu kami melewati tanjakan yang cukup tinggi. Setengah jam kami berjalan kami tiba di pos Landengan Dowo dan setiap pos kami tidak lupa untuk jeprat-jepret, karena tenaga masih banyak kami tidak istirahat dan terus melanjutkan perjalanan. Di tengah perjalanan dari Landengan Dowo menuju pos Watu Rejeng terdapat beberapa shelter. Tetapi kami tidak sekalipun menggunakan fasilitas shelter tersebut untuk beristirahat, karena setiap shelter yang kami lalui selalu penuh oleh para pendaki.

Tak lama kemudian kami melanjutkan perjalanan hingga tiba di pos watu rejeng. Perjalanan dari lendengan dowo ke watu rejeng dibutuhkan waktu sekitar 2 jam. Sebenarnya jalur dari ranu pane hingga watu rejeng ini cukup landai hanya ada beberapa tanjakan itupun tidak terjal. Dari watu rejeng perjalanan dilanjutkan menuju ranu kumbolo. Di tengah perjalanan kami harus melalui sebuah tanjakan cukup terjal yang cukup menguras tenaga.

Ranu Kumbolo

Setelah berjalan 2 jam dari watu rejeng badan terasa cukup lelah. Namun sesaat itu juga semuanya hilang tatkala melihat sebuah hamparan air dengan bukit hijau yang mengelilinginya. Ranu kumbolo hmmmmmmmmmm brrrr ademmmmm…… Sebuah tempat yang sebelumnya hanya bisa saya lihat di internet kini sudah didepan mata. Maha besar Allah dengan segala ciptaanya. Karena hari sudah sore kami men dekat shelter untuk mendirikan tenda, tenda yang sebelumnya kami pinjam dari Tumpang kami dirikan disini. Disana ternyata sudah banyak rombongan yang mendirikan tenda dari berbagai macam komunitas.

Salah satu momen yang dinanti-nanti di ranu kumbolo adalah saat sunrise. Kami dan rombonganpun tak mau melewatkan momen yang sangat indah ini untuk foto2. Sinar matahari berhasil membuat lukisan alam yang amat indah di danau ranu kumbolo, maha besar Allah dengan segala keagunganNya. Setelah makan pagi ala kadarnya, kami terus packing karena akan melanjutkan perjalanan yang menurut kami sangat berat, sebelum perjalanan dimulai kami dan rombongan ada semacam diskusi kecil, ada anggota yang hanya ingin sampai ranu kumbolo saja, ada yang lanjut dan aku sendiri yang sudah tekat bulat untuk tetap lanjut sampai batas maksimal kekuatanku, tetapi setelah diskusi kecil itu akhirnya disepakati untuk lanjut.

Cemoro Kandang

Pukul 8 pagi kami semua berangkat menuju kali mati. Dari ranu kumbolo kami melewati sebuah tanjakan yang bernama tanjakan cinta. Katanya sich menurut cerita jika kita membayangkan seseorang tanpa menoleh kebelakang ketika melewati tanjakan cinta ini maka akan menjadi kenyataan. Tetapi saya sich tetep berpegang teguh pada prinsip, bahwasanya jodoh, takdir, mati, rezeki udah ada yang ngatur. Saya pun tidak begitu tertarik saya lebih menikmati pemandangan ranu kumbolo dari tanjakan cinta ini. Dari tanjakan cinta, sebuah tempat yang luas dengan dipenuhi tanaman lavender dan rumput atau yang disebut oro-oro ombo sudah menanti, tetapi kami berangkat dikala musim kemarau, jadi lavender yang mempesona itu jarang-jarang kita jumpai. Setelah melewati oro-oro ombo kami tiba di pos cemoro kandang. Cemoro kandang adalah sebuah tempat yang dipenuhi oleh pohon cemara. Tak jauh berjalan dari cemoro kandang kami sampai juga di pos Jambangan. Dari cemoro kandang ke jambangan berjarak sekitar 2 km. Di jambangan ini puncak semeru sudah terlihat. Tak butuh waktu yang lama dari jambangan ke pos kali mati, karena jalanya yang datar dan menurun. Tiba di pos kali mati kami mendirikan tenda di dekat shelter. Setelah makan  nasi bungkus yang sebelumnya kami beli dari Ranu Kumbolo kami langsung tidur karena malamnya kami akan melakukan menapaki puncak para dewa yang sesungguhnya.

Pukul setengah dua belas malam kami dan rombongan lain memulai perjalanan dengan berdoa bersama terlebih dahulu. Sebenarnya pendakian gunung semeru hanya diperbolehkan sampai di kali mati. Pendakian di atas kali mati resiko ditanggung sendiri, mengingat medannya yang cukup berat. Dengan segala pertimbangan, kami tetap bertekad untuk melakukan pendakian sampai puncak. Waktu itu kami bersama-sama dengan pendaki dari Jakarta dan Sragen. Jadi total yang melakukan pendakian dari pos kali mati ke puncak berjumlah 12 orang. Karena jalanya yang amat sangat berat dan dingin yang merasuk tulang, banyak anggota yang kelelahan dan akhirnya tidak melanjutkan perjalanan dan kembali ke tenda yang berada di shelter Kalimati, tinggalah aku sendiri dari tuban dan teman2 dari Jakarta dan Sragen melanjutkan perjalanan.

Sekitar pukul 2 pagi kami tiba di arcopodo.Perjalanan kemudian dilanjutkan menuju cemoro tunggal. Cemoro tunggal merupakan batas vegetasi, jadi diatas cemoro tunggal sudah tak ada lagi tumbuhan,melainkan hanya ada pasir dan batu. Disinilah mental dan fisik kita akan di uji. Karena jalan yang berpasir sehingga akan banyak menguras tenaga. Terkadang ketika kita melangkahkan satu langkah bisa terperosot lagi 3 langkah kebawah. Sulit memang rasanya, tetapi puncak mahameru seolah2 melambai-lambaikan kemolekannya untuk kita menapakinya. Ketika kita melihat keatas puncak telihat dekat, namun setelah berjalan cukup lama tidak juga sampai, inilah yang terkadang menyebabkan mental kita menjadi mental tempe. Awal perjalanan memang sangat banyak tetapi tidak semuanya sampai ke puncak. Ada beberapa yang mengalami kedinginan dan kelelahan sehingga memutuskan untuk kembali turun ke kali mati mengikuti jejak temanku dari Tuban.

Setelah melewati perjalanan yang begitu berat akhirnya saya sampai di puncak tertinggi di pulau jawa itu. Subhanallah…. Allahu Akbar …. Negeri diatas awan itu memang benar-benar ada…..  Pagi itu mentari menyapaku dengan indahnya, bromo dengan kawah candradimukanya memberikan salam damainya, dentuman suara kawah Jonggring Saloka menyapaku dengan riuhnya dan puncak Arjuna melambaikan kemolekan tubuhnya dari kejauhan. Dengan bermodalkan kamera pinjaman di puncak semeru ini saya melakukan aksi jeprat-jepret untuk mengabadikan momen yang sangat bersejarah bagiku ini, mungkin ini kado terindah dari sang pencipta buatku, menjelang wisudaku aku berhasil berdiri tegak di puncak tertinggi pulau tempat aku dilahirkan dan dibesarkan ini.

Berpose di Puncak Tanah Jawa “Mahameru”

Pukul 8 pagi aku dan beberapa anggota yang berhasil sampai di mahameru, mulai menuruni puncak, karena pukul 9 pagi kawah jonggring saloka akan mengeluarkan gas beracun, dan gas beracun ini akan menuju puncak mahameru. Konon ceritanya gas beracun ini beberapa kali membawa pendaki semeru tidur untuk selama-lamanya disini, sebut saja Soe Hoek Gie dan temannya Idham Lubis yang seorang aktivis itu menghembuskan nafas terakhirnya disini.

Perjalanan menuruni puncak para dewa ini, memoriku merekam satu cerita mistis (percaya apa tidak itu saya kembalikan ke pembaca). Cerita itu bermula dari cemoro tunggal menuju Arcopodo, dari Arcopodo menuju Kalimati yang jaraknya berkilometer ini saya seperti orang hilang, berjalan sendirian itu aku alami setelah aku menjumpai sepasang kekasih didaerah Arcopodo, salah satu orang itu berkata, “mas sampean ditunggu temannya dibawah, tadi saya ketemu dia berpesan seperti itu?. Tak lebih dari semenit dia berkata seperti itu, yang awalnya saya berjalan dengan banyak orang, saya kehilangan jejak. Rasa takut memang ada, tetapi semua aku pasrahkan kepada sang illahi, sepanjang perjalanan aku selalu menyebut nama_Nya dan Alhamdulillah setelah begitu lama saya berjalan sendirian menyusuri hutan cemara sampai juga di pos Kalimati. Tiba di Pos Kalimati ini, saya disambut teman2 dari tuban, dengan penuh suka cita. Setelah berhenti sejenak, kami tanya kepada salah satu pendaki dari tuban, tentang kebenaran informasi yang saya terima kala di arcopodo, ternyata dia tidak berpesan apa-apa kepada pendaki untuk disampaikan kepada saya. Cerita ini sengaja aku bagi kepada teman2, tak ada maksud untuk menakut-nakuti atau sejenisnya tetapi hanya ingin mengingatkan saja, bahwasanya, di gunung yang sunyi itu ada beberapa aturan yang harus dipatuhi, diantaranya kita tidak boleh berbicara kotor, memperbanyak doa, harus saling membantu dengan pendaki lain dan lain-lain. Tetapi sebagai orang jawa timuran, kata2 misuh (bicara kotor) ini tidak dapat kami hindarkan, tetapi yang Maha Kuasa masih memberikan maaf kepadaku, sehingga aku dapat bergabung dengan temanku yang lain. Alhamdulillah ….

Sebelum pulang berpose dulu di Kalimati

Istirahat di kali mati tampaknya tidak bisa lama-lama dan rombongan bertekad untuk nge-track terus sampai ranu pane dan perjalananpun dimulai, tak sampai lama kita sampai juga diranu kumbolo, disini kami bertemu oleh para pendaki yang baru saja datang dari penjuru dunia untuk mendaki puncak mahameru. Sebelum meninggalkan ranu kumbolo kami berfoto-foto terlebih dahulu dan mengambil air untuk untuk perbekalan selama perjalanan pulang. Jam 5 sore kami sampai dipos Ranupane dan kami bergegas untuk mencari jeep untuk melanjutkan perjalanan menuju tumpang untuk melanjutkan perjalanan selanjutnya menuju Tuban.

Itulah petualangan kami dari semeru, sebuah petualangan yang tak akan saya lupakan. Terima kasih sebanyak banyaknya untuk sugeng, Gento, sano, edi, doni, pecinta alam gresik, Jakarta, Bengkulu, Surabaya dan semuanya rombongan yang pernah aku temui selama pendakian.

Dan di akhir cerita pendakian gunung semeru ini saya ingin mengingatkan kembali, sebagai seorang pendaki  kita harus tetap menjunjung tinggi etika ini JANGAN TINGGALKAN APAPUN KECUALI JEJAK, JANGAN AMBIL APAPUN KECUALI FOTO, JANGAN BUNUH APAPUN KECUALI WAKTU

Kategori: Travelling

maswid

simple

0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *