Kamis jam 8 pagi aku sudah sampai di Terminal Mangkang Kota Semarang bagian barat setelah semalaman berada di bus dengan cara ngeteng (berpindah-pindah bus) dari kota bandung menuju kota Tuban. Sebenarnya kalau lanjut pulang Tuban harusnya turun Terminal Terboyo Semarang bagian timur, tetapi aku mencoba untuk turun di terminal yang dekat taman margasatwa semarang itu. Tujuanku adalah satu, mengunjungi Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT). Sebenarnya aku juga gak tau dekat mana antara MAJT dengan Mangkang atau MAJT dengan terboyo, tapi ya sudahlah turun saja dari mangkang dan mencari kendaraan umum menuju MAJT, dengan menaiki bus kota menuju Pengaron aku sampai di Jalan Gajah Raya, Kota Semarang. Tetapi cita-citaku untuk segera bisa melihat masjid yang mempunyai payung-payung raksasa tersebut masih butuh waktu, harus berjalan berkilometer untuk bisa sampai disini. Sebenarnya sih kalau ada, mau naik angkot menuju MAJT tapi sayangnya gak ada angkot arah kesana. Mau ngojek juga udah nanggung, yah terpaksa meskipun udara semarang juga panas.

Setelah menyusuri jalanan semarang yang panas, dari kejauhan sudah bisa melihat tower MAJT dan tower inipula yang seolah-olah mempercepat langkah kakiku untuk segera bisa melihat masjid yang berlokasi di Jalan Gajah Raya No. 128, Sambirejo, Gayamsari, Semarang ini. Tepat pukul 9 pagi aku sudah sampai di depan gerbang masuk MAJT, alhamdulillah bisa melihat masjid yang megah ….

Begitu memasuki area masjid paling megah di Jawa Tengah ini kita bisa melihat beberapa bangunan yang kesemuanya menggambarkan tentang islam, tepat dipintu masuk kita bisa menjumpai 9 air mancur yang menggambarkan 9 wali penyebar islam di tanah jawa. Begitu masuk lebih ke dalam lagi kita juga akan menjumpai 5 air mancur yang memberi tahu kita bahwa rukun islam itu ada lima, yaitu syahadat, sholat, zakat, puasa dan haji.

Bangunan lain untuk menggambarkan tentang islam juga nampak jelas, ketika kita melihat tower al-husna, di tower yang berketinggian 99 meter inilah kita diberi tahu bahwa sifat wajib bagi Allah itu ada 99 sifat. Simbol untuk menggambarkan tentang agama akhir zaman ini juga bisa kita jumpai melalui 25 pilar yang menyerupai bangunan koloseum di Romawi, melalui 25 pilar itu kita semua diberi tahu bahwa Nabi dan Rasul itu berjumlah 25 yang harus kita ketahui.

Masjid yang berada di lahan 10 Ha ini memiliki bangunan utama masjid yang beratap limas yang memiliki 1 kubah ditengahnya dan 4 menara yang berada disetiap penjurunya. Memang perpaduan yang pas, percampuran budaya yang serasi, jawa dan arab. Kita bertauhid arab dan beradat istiadat jawa yang baik.

Masjid yang berkonsep islam, arab dan romawi ini juga dilengkapi alqur’an raksasa yang berada di ruangan utama tempat sholat, selain itu kita juga bisa melihat bedug raksasa di bagian depan masjid, bedug ini adalah replika bedug yang berada pendowo purwerojo, yang dibuat oleh santri ponpes Alfalah, Tinggarjaya, Jatilawang, Banyumas.

Berbagai macam fasilitas dibangun guna menunjang fungsi masjid dan sebagai tempat wisata religius, diantaranya tempat wudlu dengan disertai toilet, area parkir yang sangat luas, penginapan, kios, serta kantin. Pelataran masjid luas yang setiap saat selalu dipenuhi oleh masyarakat, untuk berkaktifitas sosial, beristirahat, menunggu waktu sholat tiba, dan berselfi dengan background masjid yang sangat indah ini.

Dengan segala pesona yang dipancarkan melalui bangunan-bangunan yang bertengger di sekelilingnya, MAJT bisa dibilang jajaran masjid terindah, termegah, terfilosofis dan ter-ter lainnya di Indonesia. Tetapi sayangnya penulis juga menemukan beberapa hal yang seharusnya gak boleh dibiarkan, seperti banyaknya vandalisme, bau kotor di taman-taman masjid, rusaknya beberapa fasilitas seperti pagar, retaknya bangunan dan mengelupasnya jalan, kondisi seperti ini harus segera diperhatikan oleh pengelola masjid, agar predikat sebagai masjid ter ter ini bisa terus disematkan terus di MAJT.

Jam sebelas siang semua sisi bangunan masjid sudah terlalui, kini saatnya melanjutkan perjalanan selanjutnya. Sebelum melanjutkan perjalanan, tepat didepan masjid aku berhenti disebuah rumah makan, seporsi soto bandung dan segelas jus alfukat berhasil mengobati segala kelaparan hahaha …. makan usai dan saya memutuskan untuk pesan ojek online untuk melanjutkan perjalanan menuju terminal terboyo selanjutnya pulang ke kampung halaman.

Itulah sekelumit ceritaku dari kota lumpia semarang, dan saya selalu mengajak agar semua wisatawan untuk tetap mematuhi apapun yang sudah menjadi aturan di suatu tempat wisata. Jangan merusak fasilitas yang ada, tidak merokok di tempat umum, tidak buang sampah sembarangan dan tidak vandalisme, memang dengan vandalisme tulisanmu akan terkenal tetapi terkenal akan ke-tolol-an-mu. (maswid)

Kategori: Travelling

maswid

simple

1 Komentar

nur rochma · 24 Juli 2017 pada 9:07 am

Patut disayangkan ketika aku berkunjung kesana, juga menemukan vandalisme, beberapa kerusakan pada bangunan masjid dan sekitarnya. padahal bagus ya masjidnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *