Hati-hati dengan namanya informasi, informasi memang sangat kita butuhkan. Tapi kadangkala informasi juga sumber malapetaka bagi kita yang gak bijak dalam menanggapi infomasi. Sudah banyak contoh di negeri ini orang masuk penjara gara-gara twit, status atau menyebarkan berita bohong. Tak jarang informasi yang masuk tujuannya untuk mengadu domba. Berita, gosip, fakta, fitnah bercampur jadi satu dan jika kita tidak pandai memilah bisa sangat berbahaya. Dalam ungkapan bahasa jawa kita sering mendengar kata ajining diri soko lati yang artinya harga diri seseorang ditentukan oleh tutur katanya (lati) lidah. Tutur kata disini bukan hanya lisan yang keluar dari lidah kita tetapi bisa juga lewat twit, status, pesan sms, broadcast via WA, BBM dan lain-lain.
Berita bohong atau saat ini lebih familiar dengan sebutan hoax memang sangat meresahkan dan dapat memecah belah persatuan bangsa. Masih ingatkan dengan rentetan demo beberapa waktu yang lalu, kesemuanya itu juga dimulai dari berita yang disebarkan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab bahkan ratusan ribu orang dengan mudah disulut amarahnya lewat media sosial.
Sesuai namanya hoax berarti tipuan, menipu, kabar burung, berita bohong, pemberitaan palsu, informasi palsu dan ini sangat berbahaya untuk kelangsungan berbangsa dan bernegara. Hoax bisa berbentuk tulisan dan juga gambar ataupun video yang diedit, dengan kecanggihan aplikasi pengolah gambar seperti phostoshop dan coreldraw kita bisa sangat gampang mengedit gambar sesuai keinginan kita dan menyebarkannya tanpa memikirkan dampaknya.
Lantas untuk apa berita hoax dibuat dan disebarkan, tentu ada motifnya dan sangat beragam, bisa karena si pembuat berita tidak suka kepada orang atau golongan tertentu lalu membuat berita yang tidak benar, bisa juga sebagai sarana untuk adu domba antar ras, antar agama dan lainnya bahkan saat ini berita hoax dipakai untuk menyerang lawan-lawan politik yang tidak sejalan dengan pemikiran sipembuat kabar hoax.
Tanggal 8 Januari 2017 sampai diadakan aksi serentak menolak berita hoax. Bapak Rudiantara selaku menteri Komunikasi dan Informatika ikut terjun langsung mensosialisaikan gerakan anti hoax di acara car free day di Jakarta, acara semacam ini juga berlangsung serentak dikota-kota besar lain di Indonesia.  Bahkan karena berita hoax ini sudah sangat mengkawatirkan, bapak presiden dalam sambutannyanya pada acara maulid nabi Muhammad SAW di pekalongan beberapa waktu yang lalu menyinggung terkait berita hoax ini. Presiden berpesan agar bijak dalam bermedia sosial.
Tak ubahnya seperti kota-kota lain di Indonesia, Kota Tuban yang baru beberapa minggu memiliki dinas kominfo juga terus menggelorakan Tuban Anti Hoax. Bapak Herry Prasetyo selaku kepala dinas Kominfo mendorong agar lapisan masyarakat Tuban waspada terhadap berita-berita hoax, melalui media social pribadi, konferensi pers dan juga website resmi pemkab, kepala dinas baru ini selalu mengajak warga bumi wali untuk waspada berita hoax. Lalu apakah hanya pemerintah saja yang bisa menghalau berita hoax?. Tentu saja tidak, berita hoax bisa dihalau mulai diri sendiri, dari keluarga, tokoh masyarakat dan element masyarakat lain bisa menyuarakan anti hoax.
Berita hoax bisa dengan mudah menyebar karena kita sebagai pengguna media sosial utamanya tidak bisa memfilter berita yang masuk. Konon kabar kalau baik baru menyebar beberapa meter maka kabar bohong akan sangat cepat menyebar ke seluruh dunia. Kebanyakan pengguna media sosial suka untuk mengeshare berita yang belum dipastikan kebenarannya, kadang kita baru dapat berita di medsos atau juga WA tanpa mengecek kebenarannya langsung saja menyebarkannya. So, agar berita yang salah tidak semakin banyak menyebar, pastikan dulu 3 langkah ini.
1. Tabayyun (Konfirmasi)
Kita harus selalu konfirmasi apakah benar berita yang kita dapat, apalagi kalau berita itu mau kita share ke semua teman atau kerabat. Jikalau berita ini berasal dari website maka kita bisa mengecek lewat link https://www.whois.net/ lewat link ini kita akan tahu pemilik dari website dan alamat sipembuat website dan kalau kita cek disini datanya meragukan langsung saja adukan ke aduankonten@mail.kominfo.go.id dan kita juga bisa melaporkan berita-berita hoax di https://data.turnbackhoax.id/
2. Zhan (Prasangka)
Kalau kita menyebarkan kabar itu kabar benar, bisa jadi itu ghibah, dan jika kita menyebarkan berita yang salah itu kita juga ikut menyuburkan praktik fitnah. Tak ada pilihan semua sama-sama salah
3. Bicara yang baik atau diam
Orang yang baik dalam menyikapi informasi akan selalu hati-hati apalagi dalam menyebarkan berita. Karena orang yang menerima informasi dan cepat menyebarkan tanpa ada konfirmasi dulu bisa dikatakan pendusta.
Jadi sebelum kita menyebarkan berita, kita harus yakin akan kebenaran berita ini dan konfirmasi dahulu. Kemudian jika berita ini benar atau prasangka apakah hal ini layak disebar, kita juga harus berfikir apakah ada orang/kelompok tertentu yang merasa disakiti dengan berita yang kita sebar dan yang terakhir dampak dari berita yang kita share, akankan memberi kebaikan atau malah menimbulkan permusuhan.
Lantas tulisan ini termasuk hoax apa bukan? Hati nuranimu sendiri bisa menjawab …. Salam

Kategori: Feature

maswid

simple

0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *