Bandung memang identik dengan gunung. Ada gunung apa saja??? Banyak jawabannya. Bisa jadi Gunung Tangkuban Parahu yang sudah melegenda itu, bisa jadi gugusan gunung puntang dengan puncaknya mega itu. Bisa jadi gunung patuha dengan kawahnya yang exotis. Dan masih banyak lagi gunung yang gak bisa disebutkan satu persatu.
Biasanya dan bisa dikatakan pasti ada, yang namanya gunung berapi rata2 memiliki kawah. Kawah adalah massa air (danau) yang menutupi permukaan suatu kawah gunung api. Dalam artikel kali ini, aku ingin ngajak netizen untuk sejenak berpetualang ke daerah Bandung Selatan tepatnya di Jalan Raya Soreang Ciwidey Kilo Meter 25, Desa Ciwidey, Kecamatan Ciwidey, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Di daerah yang sangat terkenal akan komiditi buah strawbery-nya ini terdapat wisata alam yang sangat elok nan exotis yaitu hamparan kawah yang berwarna putih oleh karenanya tempat ini disebut Kawah Putih. Warna air yang berada di kawah ini berwarna putih kehijauan, yang unik dari kawah ini adalah airnya kadang berubah warna.

Akses menuju tempat ini sangat mudah, jikalau para traveler menggunakan angkutan umum, dari Terminal Cicaheum anda bisa melanjutkan dengan naik bus Damri menuju terminal Leuwipanjang dengan tarif 5.000. Sesampainya di Terminal Leuwipanjang dilanjutkan perjalanan menuju ibukota Kabupaten Bandung tepatnya Kota Soreang dengan angkot warna hijau Jurusan Soreang-Bandung, dengan tarif 6.000 anda bisa berfantasi menikmati macetnya Terusan Kopo yang sangat luar biasa itu. Macet kok fantasi hehehehe. Perjalanan yang menguras energi dan kesabaran itu akan berhenti di Terminal Soreang yang bersebelahan dengan Pasar Soreang. Rehat dan cari perbekalanlah dulu di pasar soreang ini. Jika badan udah fit dan fresh, carilah angkot warna putih, bilang aja turun terminal ciwidey, dengan tarif 10.000 dengan waktu 1 jam anda bisa nyampek ke terminal Ciwidey. Dari ciwidey cari angkot warna kuning jurusan Ciwidey-Situ Patenggang dan bilang turun kawah putih. Sesampai dikawah putih kita akan disambut udara yang sejuk dan tulisan kawah putih yang relatif cukup besar. Terlalu banyak gonta ganti angkot ya??? Ya pastilah daerah bandung kan terkenal dengan sebutan negeri angkot ckckck. 
Dengan tarif masuk per pengunjung 20.000 plus biaya naik ontang-anting (angkutan kusus kawah putih) 10.000 kita bisa berselfie di bibir kawah, tapi jagalah kesehatanmu, sebelum jalan2 dikawah belilah masker agar bau belerang yang sangat menyengat itu bisa diminimalisir. Penjual jasa sewa payungpun juga bertebaran manakala musim hujan, dan jasa foto langsung jadi juga tersedia disini, dengan tarif 10.000 anda bisa mendapatkan foto dengan background lukisan alam yang tak ternilai harganya itu. Pihak pengelola membatasi setiap pengunjung bisa mendekati kawah dengan waktu 15 menit saja, tapi tau sendiri kan, di Indonesia itu aturan diciptakan untuk dilanggar hehe. Boro-boro 15 menit langsung bergegas meninggalkan kawah yang ada malah berjam-jam, ternyata hasrat berselfie mengalahkan segalanya. Tapi gak papalah yang tau kesehatanmu kan kamu sendiri. 

Wisata alam Kawah putih dengan ikon kawah yang berwarna putih, berada dilereng gunung patuha, adalah Dr. Franz Wilhelm Junghuhn yang memutuskan untuk pergi ke puncak Gunung Patuha demi ilmu pengetahuan, warga berkebangsaan Belanda pertama kali yang menemukan lokasi ini, sebelumnya warga sekitar mengangkerkan tempat ini, dan tersiar kabar bahwa burungpun lewat diatasnya pasti mati karena keangkerannya. Tapi kalo aku sendiri percaya bahwa burung bisa mati disini bukan karena angker dan lain2, tapi burung tersebut mati karena menghirup bau belerang. Wisata alam ini dipercaya warga sekitar merupakan tempat berkumpulnya roh para leluhur. Warga sekitar sangat yakin jika di puncak Gunung Patuha yang disebut Puncak Kapuk merupakan tempat berkumpulnya para leluhur di waktu-waktu tertentu. Warga juga meyakini jika ada salah satu hewan peliharaan leluhur yang sering menampakkan diri. Hewan peliharaan itu berupa seekor domba berwarna kehijauan mirip lumut. Karena warnanya mirip lumut, domba itu kemudian disebut domba lukutan. Dalam bahasa Sunda, domba lukutan berarti domba berlumut. Di waktu-waktu tertentu, konon domba lukutan sering menampakkan diri. Percaya ndak percaya itu urusan anda yang terpenting kita harus saling menghormati kearifan lokal suatu daerah, menghormati dengan cara lain bisa dengan cara tidak membuang sampah sembarangan, tidak merusak segala fasilitas yang tersedia.
Diarea kawah putih juga tersedia, berbagai macam cinderamata khas kawah putih, bisa juga mendengarkan pengamen musik kecapi di gazebo dan mushola bagi kaum muslim untuk sholat. Berbagai macam olahan makanan yang terbuat dari strawbery bisa anda dapatkan di lapak-lapak yang tersedia. Setelah acara demi acara dikawah putih ini udah dilalui, acara selanjutnya kembali pulang. Tapi sempatkan dulu untuk foto di Tulisan Kawah Putih, ya bisa dibuat ceritalah kalo kita pernah kesini. Sekian.  Salam lestari …. (maswid)

Kawah Putih nan eksotis
jauh-jauh dari Lampung kangen mas-nya yg di Bandung katanya 🙂
Kategori: Travelling

maswid

simple

0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *