Di Desa Jenu Kecamatan Jenu terdapat sebuah masjid kuno yang bernama Masjid Sentono (sekarang bernama Masjid Astana Jenu). Kata Astana dalam bahasa Jawa memiliki dua makna. Pertama, bisa diartikan sebagai tempat tinggal raja. Kedua, pemakaman keluarga raja. Dalam bahasa Sansekerta, sthana memiliki arti harfiah tempat. Namun Astana tersebut sepertinya sangat dekat dengan makna tempat pemakaman.
Riwayat Masjid Astana Jenu
Mungkin, karena tempat ibadah tersebut merupakan petilasan dari surau kuno, banyak yang mentuahkannya. Salah satunya adalah rutinitas melepas jamaah haji di halaman masjid ini. Sebelum berangkat, semua jamaah haji dari Kecamatan Jenu harus bersama-sama mengikuti proses pelepasan dari halaman masjid. Tujuannya, berdo’a untuk keselamatan dan kelancaran selama menjalankan ibadah rukun Islam ke lima tersebut. Selain pelepasan jamaah haji, masjid ini dulunya sering dijadikan tempat bersumpah. Prosesi tersebut menggunakan sarana air sumur di kompleks masjid yang juga dianggap bertuah.

Di belakang masjid ini terdapat tiga makam kuno. Tiga makam tersebut diyakini adalah auliya penyebar ajaran Islam sekaligus yang mendirikan surau di tempat tersebut yang akhirnya menjadi masjid. Bangunan kuno yang masih ada dan dipertahankan keasliannya hanyalah dua cungkup makam tersebut. Di luar cungkup tersebut terdapat banyak makam dengan nisan kuno yang mungkin seusia atau lebih muda dengan tiga makam kuno tersebut. Sementara bangunan surau sedikit pun tidak ada yang berbekas setelah masjid Astana berkali-kali direnovasi.

Masjid Astana Jenu dalam proses renovasi

Sumber : Buku Tuban Bumi Wali – Pemerintah Kabupaten Tuban

Kategori: Tuban

maswid

simple

0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Avatar placeholder

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

× Ada yang bisa saya bantu?